Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

TIDAK PANTAS JADI PENGEMIS

Tahun 2011Hari selasa 25 januari

Aku berjalan di siang hari menuju kampus. Ujian semesteran baru saja usai seminggu yang lalu. Jika melihat kalender akademik sudah barang tentu hari-hari seperti ini bukanlah jadwal masuk kuliyah. Atau juga bukan merupakan hari aktiif seperti hari-hari biasa. Ada sih sebagian mahasiswa yang keluar-masuk kampus, tetapi mereka paling-paling hanya Cuma sekedar main. Entah ke perpustakaan lihat-lihat buku atau pada janjian pada ingin pergi liburan sama teman-teman yang lain.

Sebagai mahasiswa semester tiga yang tinggal di masjid, aku harus merelakan hari libur untuk tidak pulang kerumah. Pada hal sebetulnya hatiku ingin ketemu ayah dan ibu adik, keponakan serta sanak keluarga yang lain. Terutama nenek, yang selalu menanyakan diriku jika terlalu lama tidak pulang dari kuliyah. Karena sejak kecil, kira-kira aku sudah bisa di tinggal orang tuaku bekerja, penjagaan dan perawatanku setiap hari di urus beliau. Sehingga wajar saja kalau nenek sering bertanya tentang aku saat aku tidak berada di rumah terlalu lama sehingga beliau merasa seolah kehilangan.  Kangen sepertu  itu adalah hal yang wajar. Dalam hati, aku ingin sekali bertemu mereka semua dan kampung halamanku.

Ya tuhan!!!!!!,aku pengen pulang ke rumah” batinku setiap hari.

Tetapi harus bagaimana lagi karena ini tanggung jawab dan amanah dari masyarakat yang sudah mempercayakan sepenuhnya untuk merawat dan meramaikan masjid.  Maka tidak ada keputusan  lain kecuali tetap berada di kota semarang, tempat kampusku berada. Aku harus ikhlas untuk tidak pulang ke rumah.  Meskipun pada hari itu sebenarnya libur, teman-temanku pada pulang, aku berupaya seolah tidak peduli akan hal itu. Aku harus tetap menjaga masjid ini, rumah tuhan, tempat orang-orang beribadah, dan tempat aku belajar bermasyrakat.

Sekitar pukul setengah sembilan, aku pergi ke kampus. Apakah yang akan aku lakukan pada waktu liburan seperrti ini?. Maksud aku ke kampus tidak lain dan tidak bukan adalah mencari buku. Meminjam buku perpustakaan yang isinya berhubungan dengan pelajaran pesantren. Aku harus secepatnya mendapatkan buku-buku itu dari perpustakaan, agar waktu-waktu yang lain dapat di pergunakan untuk keperluan yang lain pula.

Niatku sudah bulat. Hatiku berkata sendiri, menasehati diriku
Kamu hari ini harus foto kopy buku ini,  agar nanti sudah ada persiapan untuk mengajari Titu (Nama panggilan anak dekat masjid )”.

Kenapa aku harus mencari buku ke perpustakaan kampus pada hal hari libur. So pastinya kalender akademik kampus tidak menunjukan bahwa hari itu hari masuk kuliyah. Alasannya  adalah aku di kota semarang, kuliyah seperti sekarang ini tidak membawa buku-buku pesantren. Meskipun aku pernah di pesantren selama tiga tahun ternyata aku belum bisa menguasai materi-materi yang dulu pernah di ajarkan tanpa melihat-lihat isi pelajarannya. Sehingga apabila aku tidak mempunyai buku tersebut aku tidak bisa apa-apa. Apa bila di beri amanah untuk mengajari anak yang akan masuk ke pesantren maka syarat mutlaknya harus mempunyai buku.  

Ceritanya begini, seminggu sebelum hari itu, aku di di datangi seorang ibu yang tidak lain adalah ibu titu. Tepatnya tanggal 19 januari, pada saat sore hari beliau datang ke masjid dengan putranya menemuiku.

Assalamualikum, lagi apa mas” tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil mengucap salam dari luar kamar. Tiba-tiba Titu masuk ke kamar masjid. Kamar inilah tempat dimana penjaga masjid tinggal.

Walaikum salam, ada apa titu kok sore-sore kesini. Ini lagi nulis sedikit” jawabanku. 

Mas kamu di panggil ibu” sontak dia tidak menghiraukan pertanyaanku padanya.

Aku heran. Di tanya tidak di jawab dahulu malah langsung nyuruh-nyuruh. Titu malah langsung menyuruhku menemui ibunya yang berada di serambi masjid.

Aku heran, ada apa gerangan ibunya mencariku. Aku tidak tahu. Aku juga belum tahu. Sehingga kata hatiku meyakinkan diriku untuk langsung menemui ibu tersebut.

Tanpa banyak tanya aku langsung menuruti permintaannya. Keluar menemui ibunya yang katanya telah menungguku di luar. Pada hal waktu itu sebetulnya aku belum mandi. Karena pada waktu itu belum sampai jam 17.30 WIB sehingga aku belum mandi. Waktu yang belum terlalu sore untukku. Sehingga dengan agak terpaksa karena merasa kurang sopan hanya  memakai kaos putih dan bersarung aku datang memenuhi permintaan beliau.

Dari agak kejauhan, aku memandang Ibunya titu pada waktu itu menghadap ke arah timur. Beliau memandangi jalanan yang ramai oleh kendaraan yang sedang lewat. Lalu ternyata tiba-tiba ibu tersebut memalingkan pandangannya menghadap pada aku.
Pertama-tama aku menampakan muka senyum kepada beliau. Agar terlihat sumeh, dan bisa bermasyarakat.  Setelah aku duduk menghadapnya tanpa bosa-basi ibu tersebut langsung bertanya pada aku.

“Mas kamu bisa apa tidak, semisal ngajari titu?”pinta ibu ke aku.

“ Pripun bu ( ada apa bu’) ’” tanyaku balik meminta kejelasan.

“ Begini dik titu kan akan masuk pesantren setelah lulus ujian nanti. Kalau di hitung-hitung dia di rumah masih sekitar enam bulanan lagi. Lha ini agar tidak ketinggalan pelajaran dengan anak-anak yang lain aku mohon kamu bisa ngajari dia materi-materi pondok” pintanya padaku.

Materinya apa saja ya bu?” aku meminta kejelasan pada beliau. Aku kawatir kalau seumpama nanti pelajaran yang ku ajarkan kurang pas dengan pelajaran pondoknya, jadi tidak enak.

Alah dik itu lho paling-paling pelajaran dasar bla bla bla……” beliau  menjelaskan ini dan itu tentang pelajaran dasar yang di maksud beliau.

“ Ya udah bu, begini sekarang waktunya kapan. Karena kalau setelah magrib aku ngajari afil, putranya bapak rifai “. Jawabku.

Aku minta kelonggarannya agar jadwalnya tidak tabrakan. Karena afil juga minta di ajari les setelah magrib. Sehingga aku berusaha minta penjelasan lebih detail terkait kapan waktu yang tepat untuk mengajarinya.

Biasanya dia senengnya selesai sholat  magrib dik, setelah sholat jamaah saja. Biar nanti sekalian bisa sering ikut jamaah sholat di masjid. Kalau di rumah sholatnya itu sulit sekali. Kalau tidak di ingatkan selalu saja lupa”. Ibunya titu menceritakan keseharian titu. Seoalh beliau kerepotan mengatur aktivitas anaknya tentang praktik ibadah.

Berarti ini kalau minta bakda magrib, benturan dengan mas afil. Aku ndak bisa bu kalau waktunya seperti itu.” Aku bingung harus mencari waktu mengajar yang tidak benturan antara keduanya. Kepalku berputar-putar mencari jalan keluar yang kiranya tepat untuk menyelesaikan masalh ini. Tidak lama kemudian munculah ide dari pikiranku.

“ Atau mungkin begini saja bu, nanti malam aku tak matur matur ibunya afil kalau dik titu nanti minta di ajari ngaji yang jadwalnya setelah magrib. Sedangkan jadwal ini benturan dengan jadwal ngajinya kak afil. Sehingga harus di cari jadwal yang pas, agar satu sama lain semuanya dapat belajar. Aku tak berusaha meminta agar nanti mas afil yang bakda sholat isyak saja sedangkan dik titu yang bakda sholat magrib.

Kalau sudah ada kesepakatan nanti saya akan datang mengabari ibu ke rumah” alhamdulillah sepertinya tawaran ini bisa di lakukan. Dan aku berharap demikian.

Ya sudah mas, sampean atur saja. Yang penting nanti titu bisa mengikuti materi pondok dengan mudah, karena sudah ada persiapan dari rumah”.

Adzan magrib telah berkumandang. Masjid al-falah, sebagai salah satu  masjid di perumahan di kota semarang terlihat ramai. Banyak kaum muslim di waktu magrib yang menyempatkan sholat berjamaah. Sehingga nuansa kebersamaan, krukunan, nuansa guyub dan nuansa persaudaran masih sangat tersa. Meskipun sebenarnya ini berada di kota namun masyrakat lingkungan sini masih menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap lestari sebagai simbol kekeluargaan yang tak bisa terlepaskan dari kepribadian masyarakat zaman dahulu. Meskipun berada di lingkungan perkotaan namun nuansa kearifan pedesaan selalu di jaga kelestariannya.

Waktu sholat berjamaah telah usai. Aku harus segera bergegas munuju rumah bapak rifa’I untuk mengajari afil alqur’an. Di tengah-tengah proses belajar mengajar, aku sesekali bertanya pada afil. Bagaimana kalau kak afil ngajinya pindah jam, yakni bakda sholat isya. Ternyata jawabnnya dia kurang setuju dengan jadwal itu. Terpaksa aku harus menunggu pembelajaran ini selesai dahulu baru nanti matur dengan ibunya.

Setelah aku selesai mengajari dik afil aku matur tentang permintaan ibunya titu tadi sore. Aku berusaha dengan permintaan yang sopan, agar tawaran jadwal yang aku ajukan dapat di terima. Eh ternyata kedua kalinya afil kurang setuju dengan jaml privat yang jadwalnya setelah isya’. Ibunya pun demikian. Beliau takut kalau jadwal privat setelah isya’ itu terlalu malam untuk afil. Nanti takutnya sekolahnya ngantuk. Atau mungkin waktu belajar untuk materi sekolah jadi berkurang.

Dengan tanggapan ini aku merasa tidak enak.  Seumpama aku tidak usaha mencari jalan solusinya, maka aku nanti mengecewakan ibunya titu. Padahal ibunya titu sudah kesana kemari mencari oorang yang siap dan sanggup untuk membimbing dan mempersiapkan titu yang akan masuk ke pesantren.
Dengan nada memelas akupun berusaha menjelaskan, menerangkan, serta membujuk afil dan ibunya agar jadwal privatnya afil dapat di rubah. Setelah beberapa kali aku memberikan  alasan yang masuk akal, alhamdulillah mereka dapat memberikan ruang padaku. Dan mereka malah mendukungku akan upaya yang akan ku lakukan. Memperkenankan diriku mengajari afil setelah sholat isak.

“Alhamdulillah ya allah akhirnya ada jalan keluarnya” aku merasa lega dengan keputusan yang mereka berikan.

Selang dua hari akupun langsung menyampaikan berita gembira ini kepada ibunya titu. Di sana aku berusaha menjelaskan keterangan yang aku dapatkan dari negosiasi kemarin. Aku juga meminta beliau agar kegiatan belajar mengajar di mulai saja di minggu depan. Karena selain aku harus menyiapkan materi dan kurikulumnya, aku juga punya kewajiban memimpin ngaji tahlil di salah satu rumah warga yang baru kemarin meninggal.

Pikiranku berputar-putar. Mengingat-ingat masalah kemarin yang sedang aku hadapi. Yaitu masalah menyiapkan materi pelajaran titu sekaligus metode yang tepat untuk mengajari pelajaran yang mungkin bagi titu belum pernah mengetahutinya. Memang selama bertahun-tahun dirinya sudah tidak lagi belajar ngaji layaknya anak-anak TPQ yang lain. Inilah yang menjadikan permasalahan untukku. Kalau aku mengajarkan ini dan itu, tetapi materi dan metodenya kurang pas berarti bisa di tebak, delapan puluh persen dia keberatan. Tidak paham apa yang aku samnpaikan kepadanya.

Pada hari itu juga tanggal 25 januari 2011 ini aku pusing tuyjuh keliling. Biasanya tanggal tua identik dengan penyakit dompet kosong alias tidak punya uang. Ya aku memikirkan dompetku yang uangnya tinggal dua puluh ribu.

Berarti ini hanya cukup untuk foto kopy buku panduan untuk mengajari titu saja!!!!!!!!!!”. Kata dan keluh kesahku dalam hati.

Uangku hampir habis. Ternyata sebualan ini banyak kebutuhan tak terduga yang sering harus ku cukupi. Sehingga seginilah sisanya.”

Maklum akhir-akhir ini kebutuhan keseharianku tidak dapat di tebak. Ada saja kebutuhan pengeluaran uang yang tiba tiba harus di penuhi. Yang paling membuat uangku terkuras habis adalah karena masalah pompa air masjid  yang pada waktu itu sering rusak. Sehingga uangku harus aku pergunakan terlebih dahulu untuk menutupi biaya perbaikan sanyo itu. Baik itu untuk memanggil tukang air, biaya perlengkjapannya, tukang servisnya, sampai biaya membelikan konsumsi tukang yang membetulkan pompa tersebut selama berhari-hari.

Dengan agak terpaksa, pembiayaan itu semua aku talangi dulu, karena keuangan masjid akhir-akhir ini tidak bisa mencukupi biaya oprasional bulan tersebut.

Rabu dua puluh tujuh januari 2011

Dari tempat tinggalku, aku telah berniat. Niatku ialah untuk memfotocopi buku perpusatakaan kampus yang kemarin aku pinjam.  Foto copi buku  itu akan aku gunakan sebagai dasar acuan pengajaran untuk titu. Setelah selesai beres-beres membersihkan sekitar masjid, aku segera mandi. Setelah itu aku siap-siap ke kampus. Buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan kemarin ku masukan ke dalam tas. Ada tiga jenis buku yang akan aku foto copi. Dan kesemuanya adalah buku-buku pesantren yang berbahasa indonesia, bukannya kitab kuning seperti di pondok-pondok klasik.

Meskipun terik matahari sangat panas dan tak mau mengalah, aku tetap bulat pada niatku untuk foto copi. Sehingga meskipun tidak memakai kendaraan untuk sampai lokasi, dan ini juga agakl berat bagiku tetap saja ku kuatkan kakiku menyusuri lorong perumahan yang berkelok-kelok dan panjang.

Dalam hatiku “ Ya Allah panas sekali siang ini!, pada hal tadi malam hujan sangat deras, bahkan tadi pagi agak mendung.”

Perubahan cuaca zaman sekarang memang tak seperti dulu. Pada zaman dahulu musim hujan atau kemarai dapat di tebak. Tetapi memang mungkin zamannya sudah tua. Cuaca semakin ekstrim dan sulit di prediksi. Jika kira-kira tahun ini ada dua iklim yang teratur mungkin untuk tahun depan tidak demikian. Bisa saja setahun panas terus, kemarau berkepanjangan. Dan bisa saja setahun penuh musim penghujan terus. Semoga saja ada jalan keluar yang dapat menanggulangi cuaca yang demikian yang di ikuti oleh kesadaran seluruh manusia di berbagai belahan dunia akan pentingnya menajaga kestabilan alam lewat langkah-langkah yang positif.

Dengan  di penuhi rasa panas aku harus hati-hati, menyusuri pinggiran jalan raya yang sarat dengan kedaraan yang hilir mudik. aku berusaha menjangkau lokasi foto copi meski panas tak dapat terelakan.
Setelah sekitar dua puluh menitan aku mulai lega, sehingga bisa menatap bangunan foto copi yang semakin dekat.

“Akhirnya aku sampai juga” batinku.

Antrian agak lama. Anak-anak perkuliyahan semester tua pada saling beergantian meminta untuk di layani. Pada saat yang bersamaan aku menjumpai kakak smesteranku yang kelihatannya aku mengenlnya. Kalau tidak salah sudah semesterr delapan. Mungkin tinggal ngurus skripsi.

“Mas” dia memanggilku.

Meskipun usianya lebih tua dari aku namun dia sering memanggilku demikian. Sejak kemarin satu paket dan satu kelas mata kuliyah psikologi anak dia memang agak akrab denganku. Sering berkomunikasi, saling menyapa.

“Oh ya mas!” aku membalasnya.

Terus aku bertanya“ lho libur gini masih ngurus foto copi mas, sampean tidak liburan tho?”

“Alah kok liburan, yang penting aku nyelesaikan kewajibanku dulu. Ini masih ngurus tugas skripsi,”jawabnya padaku.

“ Ooo!!!!!!!!!!!!!, begitu. Lha memangnya kalau di urus besuk-besuk kenapa mas?. Waktunya libur mending liburan mas. Kaya tidak ada hari lagi saja!.” Gurauku sambil tersenyum.


Secepat kilat dia langsung menjawabku.
Biar cepet lulusnya lah, aku tidak ingin kuliyah lama-lama. Delapan semestewr cukuplah. Tidak ingin tua di kampus.”

Ya sudah, semoga masnya cepet lulus. Sekalian cepet kerja. Biar nanti bisa nulari aku” kataku mendukungnya.

Aku sangat suka jika ada seseorang itu memilki tarjet dalam setiap hal. Harus ada tarjet di dalam setiap kariernya. Sehingga umur yang di berikan oleh tuhan kepadanya tidak terbuang percuma.

 “ Trimkasih, ya di doakan saja. Semoga cepet kelar semuanya. Ya sudah aku duluan lho. Sampai ketemu lagi!. Tak doakan kamu juga baik kuliyahnyanya. Juga cepet lulus dan segera mendapatkan apa yang di cita-citakan” Imbuhnya panjang lebar.

Memang suasana foto copy pada hari itu tidak terlalu padat namun boleh di kata termasuk ramai. Biasanya aku kalau foto copi di tempat ini pagi hari sekitar jam delapanan. Tetapi untuk hari ini memang tidak seperti biasanya. Karena harus membersihkan masjid dulu, sehingga agak molor, sampai agak siang seperti ini.

Ahkirnya setelah mengantri selama sekitar hampir dua puluh menit tiba giliranku. Aku di panggil pelayan foto copinya.

Mas pengen foto copi?” seorang wanita paruh baya memanggil untuk menawariku. Di menanykan apakah aku ingin memfoto kopi atau perlu yang lain.

“Ohh ia bu’!!!. “ jawabku agak kaget.

“ Bu’  biasa ya.  Ini di foto copy buram di perpanjang seperti biasannya saja biar cepet” pintaku padanya.

“Seperti kemarin mas?” dia mencoba bertanya kembali agar lebih jelas.

Ia, kayak kemarin bu’, tidak usah kertas putih mahal kok”.

Aku menjelaskan kembali padanya. Memang kemarin aku pun juga telah foto copi di tempat ini.

 “Jangan lupa bu’ saya nanti tolong   di kasih nota, biar nanti bisa ada hitung-hitungannyaterangku kepadanya.

Ku jelaskan ibu tadi menganai bentuk fotocopi yang aku inginkan. Aku biasanya minta kertas buram, di perkecil, dan di jilid panjang. Kenapa kertas buram. Karena memang aku biasanya seperti itu. Kertas buram, berarti sederhana. Yang penting inti materi yang di foto copi dan di pelajari. Kalau toh foto copinya kertas bagus, akan tetapi tidak di pakai untuk belajar, kan sama saja. Lebih baik foto copinya sederhana, akan tetapi di fungsikan dengan sebaik-baiknya. Dalam arti apabila tujuan awal foto copi adalah agar bisa mempelajari materi foto copian tadi, maka setelah di foto copi ya harus di gunakan sebaik-baiknya. Tidak lantas hanya sekedar punya foto copiannya.

Terus kebiaasaanku foto copi di perkecil, apakah menandakan bahil?. Menurutku tidak juga. Memperkecil foto copian, maksudnya adalah agar buku yang di foto copi tidak menumpuk sampai menggunung. Karena kalau setiap kali foto copi buram tidak di perkecil, bisa-bisa akan memenuhi rak buku. Bisa juga, di perkecil bertujuan agar buku tersebut lebih simpel. Tidak berat jika harus di bawa kesana kemari.
Keseringan dariku, memfoto copi di perpanjang.  Di perpanjang biasanya lebih menghemat waktu.

Pelayan biasanya mengeluh kalau ada orang yang foto copi Cuma satu buku, lantas dia menginginkan hasil foto copiannya itu di jilid seperti percetakan sungguhan. Mereka sering mengeluhkan yang demikian. Kalau memang pesannya banyak tidak apa-apa. Karena nanti itu bisa ada nilai lebihnya.

Sebenarnya foto copi seperti ini sepenuhnya aku kurang setuju. Meskipun memakai kertas buram, di perkecil dan di perpanjang itu hemat biaya, namun sebetulnya dalam hati kecil tidak menginginkannya. Karena bagaimanapun yang lebih baik adalah apabila ada seseorang yang memilki buku, tetapi buku tersebut memang betul-betul asli dari percetakan. Bukanya buku yang di dapatkan dari hasil kopian.
   
Sambil menunggu sebentar, duduk-duduk di sebelah selatan foto copy tiba-tiba ada seorang bapak-bapak datang. Tak di sangka dia datang, menyadarkanku yang tadi melamun memandangi hilir mudik kendaraan. Sebelumnya aku melihat bapak tersebut berjalan sangat cepat. Karena mungkin ingin segera bertemu seseorang. Eh malah dia langsung menghampiri diriku.

“Mas!!!!!” bapak itu memanggilku.

Bapak iru membawa tas berwarna merah agak kehitam-hitaman. Tas tersebut di tanting di atas pundak sebelah kiri. Kalau di lihat-lihat memang dia masih belum terlalu tua. Namun peretama kali aku melihat parasnya terbesit dalam hatiku tentang sebuah pertanyaan.

 “ Lah kenapa bapak ini?” tanyaku di dalam hati

“Mas!!!!!!!!!!!!!!!”kedua kalinya dia memanggilku.

Tak heti-hentinya dia menengadahkan tangannya, seoalh mengharap sesuatu dariku. Dan ternyata kalau di amati bapak itu memang seoalh sedang meminta-minta. Sudah pasti dia bermaksud ingin meminta uang.

Sebelum aku tahu jelas tentang kedatangan bapak tadi batinku bertanya ”Aku heran, apa benar bapak yang masih sehat seperti ini tega-teganya mengemis?.”

 Mas paringi”( Mas Beri Uang) orang tadi menungguku.

Ternyata dia tak pindah dari tempat ia berdiri. Berkali kali aku mencoba berusaha tidak tahu menahu akan keberadaannya, semakin dia mendekatkan kedua tangannya ke mukaku. Dan pastinya dia semakin memksaku agar aku memberinya uang.

Ada apa pak?” tanyaku sambil berusaha mengelak darinya. Aku paling tidak suka kalau ada orang yang memaksa seperti itu. Kesel banget pokoknya menghadapi orang seperti ini.

Tetapi aku tidak langsung memberinya uang. Karena aku pikir yang sebenarnya harus memberi pengemis ini adalah pihak foto copi. Sehingga aku berusaha untuk mengarahkan bapak tadi agar meminta pada tukang foto copinya.

Beberapa kali aku menunjukan tanganku ke arah tukang foto kopi agar dia meminta pada ibu pengelola foto copi itu. Ehh tapi ternyata tukang pengemis itu sangat keras kepala. Dia malah semakin memanggil-manggil aku.

Mas!!!!!!!!. Tulung mas.”pengemis ini malah tidak mau pergi. Dia malah semakin memperkeras suaranya memangilku dengan nada meminta.

Dalam hatiku, aku sangat bosan dengan orang-orang seperti ini. Aku ingin berteriak keras. Sekeras suara seseorang yang sedang benci terhadap orang yang di bencinya.

 “Ya tuhan.  Pak….!!!!!!!!!!!,  kamu minta ibu foto copi saja. Jangan minta aku. Aku ini bukan yang punya foto copi ini!!!!.” Kata hatiku berteriak, menjeritkan suara hati yang tidak hiraukan pengemis ini.

Aku berharap agar dia mau mengemis saja kepada ibu fotocopi. Aku ulangi permintaanku ini. Namun memang bapak tadi sangat menjengkelkan. Berulang kali aku memperingatkannya lewat isyarat dan pandanganku, agar tidak memintaiku yang pada waktytu itu banyak hutang , ternyata tidak ada respon.
Sampai akhirnya aku menyerah karena jengkel tidak kuat dengan sikap bapak tersebut.
  
Dengan agak terpaksa aku keluarkan selembaran uang. Ya itu nominalnya Cuma seribu rupiyah. Jumlah yang tak terlalu banyak sih. Tetapi aku sabetulnya sangat membutuhkannya.

Dalam hati aku sangat menginginkan uangku itu untuk keperluan lain. Namun bapak tadi memang menurutku telah sangat keterlaluan.
Yang aku heran adalah masak orang masih sehat, seger, kuat dan pastinya masih usia produktiv kok  tega-teganya meminta-minta. Dan menurutku, bapak tadi Tidak pantas menjadi pengemis. Karena memang secara lahiriyah dia masih belum bisa terkategirikan sebagai golongan orang orang yang pantas menjadi pengemis.


Sabtu, 15 Januari 2011

BUKAN S1/S2/S3 TAPI HANYA PAKET C

Malam itu, tepatnya tanggal 21 desember datang seseorang yang sedang berlari dari pinggir jalan di depan kosku dengan menuntun sepeda.  Meskipun dia lari dan berusaha secepat mungkin menghindar dari jutaan tetes hujan, tetap saja tubuhnya basah kuyub karena derasnya jatuhan air hujan. Memang hujan yang telah turun sejak pukul 18.00 WIB, namun kali ini dia murung tak mau mereda, sehingga saat waktu memasuki sholat  isya’ ternyata hujan juga belum usai.

Sejenak aku perhatikan orang tersebut. Dia seolah linglung, bersandar di samping tembok kosku yang agak usang karena catnya sudah lapuk di pangan oleh senja. Entah apa gerangan yang di pikirkannya di tempat aku biasa menginap di malam hari ini.

Maaf mas boleh numpang tanya?’ Sontak dia bertanya padaku.

Tetesan air dari rambutnya selalu bergantian. Satu menetes yang satunya lagi antri menunggu giliran dari panggilan gaya gravitasi bumi

Ia pak ada yang bisa saya bantu ?’ Jawabku penuh antusias menawarkan bantuan kepadanya.

Wajar saja, ketika aku melihat gerak gerik dirinya sepertinya dia orang baru, orang asing yang baru masuk di lingkungan tempat kosku.
Dengan wajah penuh cemas dan agak gugup dia berusaha merogoh sesuatu dari dalam tas kecil yang di bawanya yang sudah sobek bagian atasnya.

‘ Ini mas saya dari desa, ingin menanyakan alamat ini !’

Tanganku julurkan pada kertas kecil yang di tarik dari tas itu. Sambil menggigil dan gemetar dia berusaha menahan rasa dinginnya hujan di malam itu. Mulutnya bergerak dengan bergetar seperti mesin diesel saat di nyalakan membuat aku merasa kasihan.

Oooooo ..! ini ,i ya itu rumahnya pak irsyad di blok K9. Dia seorang pengajar  sekolah kejar paket lembaga bina insan daerah sini koki’.

Aku berusaha menjelaskan rute alamat pak irsyad. Pak irsyad selain mengajar di sekolah non formal, kejar paket juga mengajar ngaji. Biasanya anak-anak TPQ setelah asyar menimba ilmu padanya. Sehingga pak rusdi lumayan terkenal di sekitar daerah sini.  

Aku lalu menanyakan apa maksud dan tujuan orang itu mencari bapak irsyad. Seketika dia berujar , menceritakan maksud dan tujuannya kepadaku apa adanya.

Ini mas, sayakan dulu tidak sempat sekolah SMP. Bukannya tidak mau, tapi memang emak saya dulu tidak punya biaya untuk menyekolahkan saya. Adikku tiga, semuanya perempuan. Jadi aku yang mengurusi mereka. Kalau akau tidak membantu ibu, ya siapa lagi. Bapak sudah meninggal dua tahun yang lalu saat akau baru saja lulus SD. Lalu saya kemari ingin menimba ilmu mas.

Akupun menanyakan maksud perkataan yang di ucapkan kepadaku tadi. Aku heran saja, masak dia yang sudah berwajah bapak-bapak itu mau belajar meneruskan pendidikan kejar paket di sini. Apa lagi jarak rumahnya dengan sekolah kejar paket di sini sangat jauh.

Ternyata dugaanku benar!. Dia berangkat dari rumah karena memenuhi kewajibannya sebagai seorang pelajar di sekolah paket C dekat kosku. Sekali lagi, dia hanyalah seorang pelajar bukan mahasiswa atau bahkan sarjana yang bertitel. Apalagi bertumpuk S-nya, sampai S3. Sebelumnya dia juga menyatakan kalau di kesini hanya dengan bermodalkan nekat, tekat, dan kuatnya hati mengarungi perjalanan yang berkilo-kilo itu.

Dari cerita di atas, seorang bapak yang sudah bekeluarga, memilki tanggungan yang tidak ringan rela meluangkan waktunya untuk meneruskan pendidikan yang sudah terputus bertahun-tahun.

Cerita di atas membuat kita prihatin. Prihatin terhadap bapak tadi sekaligus harus juga kita prihatin akan diri kita sendiri. Prihatin akan kedudukan kita sebagai mahasiswa. Apa yang menjadi amanah sakral dari rumah harus tetap di perjuangkan dan di laksanakan sebaik-baiknya. Jangan sampai ortu di rumah kecewa melihat anak semata wayang tidak bertanggung jawab terhadap perkuliyahannya. Jika seseorang yang ingin belajar pendidikan kesetaraan saja memilki semangat hebat, mengapa kita tidak.

Soooooo ..! Yakinlah Agar Usaha Tetap Sampai. Yakusa.

By : Fauzin  El-Banjari TARBIYAH PGMI09 Sang Penikmat karya

Terpaksa hanya puntung rokok

SUASANA TAHANAN

Setelah kejadian itu aku menjadi sadar, kudu ingat kepada sang pencipta, eling marang jabatan dan tanggung jawabnya,kudu ngerti marang negoro kepriye Seharuse aku dadi pak lurah!” kata seorang penghuni tahanan meluapkan keluh kesahnya.

Yaaa!pak Rusman namanya. Orang nomor satu di desa Nabang itu mengiba. Merasa berat terhadap hukuman yang di jalaninya.
Memang kejadiannya sudah setahun lebih lamanya, sedangkan hukuman yang di jalaninya masih belasan tahun lamanya, sehingga dalam hati kecilnya kejadian itu membuatnya hancur segalanya.

“Kapan saya bisa kembali ke keluarga yaaaa.! Kenapa hidupku ini hancur.kenapa mereka semua meninggalkanku. Tak mau menjenguku atau mengurusku.  Kenapa itu harus terjadi padaku?”

Rintihan ini semakin hari tak henti-hentinya keluar dari cerutu bibirnya. Memang paska hakim memvonisnya lima belas tahun penjara. Sedangkan permasalahan yang tidak kalah penting yang membuat hidup pak rusman tak jelas adalah karena keluarganya tak mau mengakuinya sebagai bagian dari keluarga. Korupsi yang di lakukan sang ayah telah mengubur keberadaan keluarga. Rasa malu dan rasa bersalah pada seluruh rakyat yang di pimpin sang ayah membuat keluarga itu harus memikul pilu tak berkesudahan.

Tak di duga dia telah membohongi keluarganya selama ini. Pihak keluarga tidak tahu kalau sang ayah telah melakukan perbuatan hina itu. Sehingga mengantarkannya ke ruangan dingin tak berkasur. Kamar yang di takuti semua orang kecuali hanya orang yang tidak normal. Ya.. kamar tahanan.

Tahukah engkau, kenapa dia di dalam kamar ini?. Ya, apa lagi kalau bukan karena kasus korupsi. Kasus tersebut menjadikannya hidup di dalam tempurung ruang hampa.  Balasan penjara yang di tanggungnya telah membuatnya hancur. Dia merasa sangat tersiksa, karena tempat itu membuangnya di tempat penyiksaan fisik dan batin.

Akibat ulahnya, rasa malu tak bisa terelakan karena menyinggung masalah hargai diri orang-orang sekeluarga. Kehidupan menjadi sepah tanpa arti.
Di dalam kepengapan dia tak sendirian. Ada satu teman tahanan lain satu kamar yang harus mempertanggungjawaban hukuman serupa.

Rekan satu tahun yang lebih lama dari pak rusman juga ada di dalam satu kamar. Dia terkena kasus pencurian bank BCA di jakarta selatan. Kasusnya memang tidak terekspos media. Karena memang kejadian itu berpas-pasan dengan kasus korupsi besar, kasus Bank century.

Bung toni, kebanyakan kamar sebelah menyebutnya. Sepintas terlihat dari mimik wajahnya mengindikasikan, dia bekas preman kakap. Brandalan edan yang berkeliaran yang tak henti-hentinya mencari mangsa.
Karirnya mandeg di saat dia mencoba membobol kotak isi uang bank BCA. Namun memang takdir telah mengantarkan bung toni ke dunia yang berbeda. Sekarang dia harus mempertanggung jawankan aksi pencurian itu di belakang jeruji sel tahanan.

Ruangan itu pengap. Ventilasi dan sirkulasi udara di dalam ruangan itu memang ala kadarnya. Namanya saja Rutan rumah tahanan ya begini. Tidak ada menu special. Makan tiap hari itu-itu terus. Tidak ada refresing,tak ada hiburan.

Oh indahnya jika akau dapat bertemu keluarga, hidup di samping mereka. Merasakan kebahagiaan seperti layaknya kebanyakan orang. Kenapa makanan selalu ini terus pak?”.

Pertanyaan dan nada sekata dengan rintihan terus saja berujar dari logatan lidah tahanan ini. Di ulanginya lagi suara bising itu.

Pak pilisi tolonglah aku! Aku ndak kuat hidup begini!”

Penjaga tahanan tak menolehkan sedikitpun mukanya. Meskipun pak rusman meronta ronta seperti itu karena bosan di kurungan, tak mungkin ada dispensasi bagi siapa saja yang telah berada di dalam penjara.  Nada memelas bukanlah urusan mereka. Suara bising seperti itu Sudah makanan sehari-hari.

Pak !!!!!!!” dia mengulangi panggilan itu untuk ke beberapa kali dengan  sekerasnya. Mencoba dan mencoba agar polisi datang padanya. Namun lagi-lagi skuriti tahanan tetap membisu.

Bung toni yang satu kamar tahanan muak sekali pada pak rusman. Telinganya terasa geli bila mendengar orang tua itu mengis. Melihat keluh kesah pak rusman yang sesama kamar dia benar-benar merasa bosan. Tiap kali mata terbuka ada saja nada rintihan pak rusman yang cengeng itu terdengar

Alah ribet amat sih orang ini. Pemandangan yang menjengkelkan! Lha sudah terlanjur basah masak di tangisi. Sok sedih lah. Bodoh amat pak tua ini.”Gumamnya di dalam hati. Sambil meneteng rokok di tangan.  Tak lama kemudian terdengar suara keras darinya.

“ Bang kau ini kenapa haaaa? Makan sudah makan.Bersyukur ada makanan gratis dari pak polisi. Yang penting hidup itu nggak usah ribet. Ada apa pak tua? Haaa ?? mau bebas dari sini? Kamu ingat keluarga ? mending kau itu. Diamlah kau bung! Cengeng banget kamu ini. Kayak anak baru lahir saja. Lihat kamu itu sudah tua tidak usah cengenglah. Paling-paling kalau mati juga tidak ada yang peduli
‘Kapan bahagianya kalaukau cengeng, paooook kayak  gin, nangis kaya bayii. ”.

Memang ada benernya juga orang ini. Bila di telusuri, persepsi bung toni itu tidak salah, tapi juga tak seratus persen benar . Dalam menyikapi perheletan hidup ini, kebanyakan mereka menilai bahwa bahagia itu jika memilki harta berlimpah, makan yang enak-enak,rumah mewah tersedia, istri cantik, dompet tebal dan lain sebagainya. akan tetapi dia menafsirkan bahwa hidup bahagia itu yang penting suasana hati. Bila hati gelisah terus, tak merasa cukup maka tak mungkin bahagia.
Tak lama kemudian pak rusdi pun diam. Sepatah dua patah katapun tak keluar dari mulutnya.  Meski mulutnya tidak keluar kata kata, terlihat kalau sesenggukan terlihat jelah tersirat dalam raut muka orang tua itu

He bung hidup itu ibarat mainin kata. Kalau kau pilih kata indah maka hidup ini ikut berkata demikian. Tapi kalau kau buat kata sukar,  ya hidupmu takan bahagia”. Tandas bung toni mencoba ngomong. Mengingatkan pak rusdi agar bisa hidup apa adanya.

Kata-kata bung toni memang simpel, namun sulit sekali di terapkan. Jarang orang berkecukupan mengomentari kehidupan mereka demikian. Paling-paling setiap hari sering berkeluh. Membeberkan kekurangan ekonomi, hutang banyak, belanja telat, gajian tak cukup dan lain sebagainya.

Ucapan bung toni tak sekedar omong kosong. Kalau di simak secara mendalam ucapannya menandakan,dia memang tipe orang yang tidak cengeng. Bukan tipe orang yang selalu berkeluh kesah menghadapi kerasnya kehidupan. Dia merasa bahagia dengan apa yang ada di hadapanyya sekarang ini.

Meskipun berada di penjara rasa bahagia tak pudar dari hatinya. Dia menilai, lebih
baik di penjara setelah melakukan tindak kriminal dari pada para kriminal yang bebas berkeliaran. Seolah tidak punya salah pada sesamanya. Terutama sang pecundang bebuyutan KPK, sang koruptor dan saudaranya yang lain. Kalau mereka tidak tertangkap berarti semakin hari semakin menumpuk dosa. Mereka punya kesempatan menambah income harian dengan aksi korupsinya. Sungguh meprihatinkan negara ini.

Demikianlah pemikiran bung toni. Orang tidak akan bahagia jika selalu merasa kurang. Sudah punya sepeda motor bagus, ada saja kurangnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan tindak kejahatan akan mengiringi rasa kemiskinan mereka sepanjang hari.

Suasana Desa
Keterpurukan telah melanda manusia paruh baya itu. Jenggotnya tak pernah di pangkas, apalagi di cukur rapi. Kejadian itu telah mengakibatkan jalan mulus menuju roma menjadi bencana.  Mulai dari kareir, wacana, keluarga, bahkan tentang masa depan yang sebetulnya masih perlu di bangunnya.

SEL(Ruang Jeruji tahanan) tempat ahir baginya, telah mengubur tuntas karier sepanjang masa. Misinya sebagai kepala desa yang ngayomi tak lagi menyelimuti statusnya sebagai kepala desa. Tak jarang warganya menjadi geram karena ulahnya mengoleksi nilai merah raport roda pemerintahan itu.
Korupsi itu tidak akan terjadi kalau wong nduwur(pejabat di segala jenjang dan tingkatanyang sembrono red”) ujar orang-orang yang pulang menyusuri jalan di persawahan.

Mereka pulang kerja sambil mengoreksi kualitas dan sinergisitas kinerja pejabat lurah desanya itu. Sambil menyusuri galeng( pembatas antar sawah yang di gunakan pula untuk jalanan) nuansa Agen Social Of Control telah membasahi warna kedemokrasian masyarakat setempat. Ternyata meskipun jenjang pendidikan rata-rata warga setempat di bawah standar, bisa di bilang esensi prinsip demokratisasi NKRI setidaknya berjalan dengan baik. Dan kalau di timbang-timbang, itu lebih baik dari pada mahasiswa sekarang yang keseringan dengan budaya hedonisme, pragmatisme. Kuliyah kupu-kupu.

Sementara itu di lain pihak tugas dosen sering terabaikan, berangkat telat, apsen nitip temen, copy paste, cengkreng(ngumpul bareng di parkiran atau tempat lain yang tidak ada esensi organisatoris, edukatif, atau akademisnya). Venomena semisal korupsi biarlah urusan mereka(pemerintah red). Memang sangat di sayangkan sekali, seorang terpelajar seperti mahasiswa hanya kritis dalam hal akdemis saja.

Kasus-kasus kemasyarakatan seolah menjadi dunia asing dalam dinamika akdemisi yang mereka jalani. Semoga saja mereka sadar, bahwa yang namanya urusan masyrakat takan terlepas dari fungsi dan peran kita. Kenapa ? kita kan mahluk sosial juga. Hidup di tengah-tengah komunitas dinamika sosial. Kalau benar saja kita nggak mau menengok sedidikitpun atas kasus korupsi dan anak-anak asuhnya, jelaslah kita telah berkhianat terhadap kehidupan kebermasyarakatan ini. Dzolim, jahat, jahil, penjilat dan kata-kata tak pantas yang seirama dengannya.

Ada pula warga yang mengungkapkan komentarnya akan penghianatan kepala desa itu setelah di tanya dengan berujar

“Haaaah, ngayomi? Itu ndak mungkin. Lha wong korupsi kok di ingu(di pelihara)! Mau di jadikan apa negara ini. Masukin saja ke neraka dunia. Biar kapok!.

Alasan ini memang masuk akal. Bagaimana tidak? Bagi warga setempat, uang bermilyar-milyar bukanlah nilai yang sedikit. Mereka yang bertani tidak punya penghasilan tetap. Kadang panen kadang gagal. Kalaupun toh panen harus juga memutar kembali uang hasil panenan dengan modal awal yang telah di keluarkan untuk pembiayaan semasa tanam.

Ada pepatah mengatakan “Tidak ada perasaan yang paling sakit atas suatu penderitaan kecuali sebuah penghianatan”. Kepala desa seharusnya dapat menjadi vigur publik baik malah menghianati rakyat. Korupsi!!!! Seolah dia sengaja melakukan perbuatan salah. Atau memang dia tidak tahu mana jalan yang bener dan mana yang salah. Padahal dia sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi.

Semoga saja hanya sekali ini kasus semisal paklurah  rusdi terjad di desa kia Sebagai warga sini aku mertasa malu, apalagi aku seorang modin”.pak modin menyambung pembicaraan yang lain.

Pak modin merasa bersalah atas kejadian yang tak pantas ini di lakoni oleh sang lurah. Menyikapi kasus ini juga prihatin. Lurah yang juga teman sekolah pak modin  tak di sangka sampai mau berbuat demikian.

“Pemerintah saja sudah menghabiskan dana rakyat untuk mengusut tuntas kasus perkorupsian negara ini. Biarkan gayus-gayus kecil ini sadar, bahwa biarpun mereka bukan gayus sungguhan yang korusinya tak akan habis di makan tujuh turunan itu, namun bukan berarti itu hanya masalah sepele.
Bayangkan berapa saja kasus semisal korupsi di negri terjadi. Negri  maritim dan kepulauan luas ini seharusnya malu. Masak kita yang seharusnya sudah sejahtera, masih saja ada warga yang makan sehari-harinya pontang panting kesana kemari. Bahkan ada yang tidak tentu makannya.
Yahhh memang orang pejabat tak akan mengalami masa mlarat, karena pasokan dana untuk di korupsi pasti ada” tambah tokoh syarekat ini.

Modin dalam literatur orang jawa adalah orang yang berperan sebagai penuntun ajaran agama bagi warga. Jika ada hajatan atau tasyakuran pak modin sering di minta untuk memimpin ritual adat setempat.

Intinya pak modin adalah seorang tokoh agama islam yang peranannya adalah sebagai Penanggung jawab masalah keagamaan, terutama masalah kematian dan pengurusan ritual penguburan jenazah

Memang banyak kejadian aneh menimpa orang besar.Bukannya jabatan sebagai sebuah pengabdian, namun malah menimbulkan mala petaka bagi dirinya dan orang lain. Dan lagi-lagi kebanyakan mereka sebetulnya beragama dan punya kepercayaan. Mengakui keberadaan dan hakikat hukum kausalitas, hukum sebab akaibat. Sudah tahu kalau segala sesuatu itu ada balasannya. Orang berbuat baik akan mendapat kebaikan pula, begitupun arah sebaliknya.

Rokok Habis
Rokok memang membawa penyakit. Korban dari bahayanya pun harus merelakan nyawanya karena efek rokokini. Sudah jelas di dalam bungkusnya tertulis, merokok dapat menyebabkan kanker bla bla bla. Namun ternyata animo permintaaan masyarakat terus meningkat dari tahun-ketahun. Begitupun bung toni, meskipun berada di tahanan dia sangat  menyempatkan untuk membeli rokok. biasanya sehari semalam bisa menghabiskan hampir satu plat, satu bungkus berisis dua belas batang.

Tantangan baru bagi bung toni telah datang. Apalagi kalau bukan masalah rokok. sebelumnya dia bisa beli rokok dengan tabungannya, tetapi sekarang tidak. Sehari-hari dia harus tinggalkan cerutu itu dari mulutnya. Masalahnya uang tabungannya habis. Baru dua tahun saja, tabungannya tidak menyisakan serupiah pun.

Sial rokok habis, tidak ada uang lagi”ujar bung tomi.

Dua hari sudah dia tidak merokok. Tanggal 13 september 2009 itu hari pertama memaksanya hidup tirakat. Uang tabungan di bank sudah habis. Sementara kurungan penjara masih empat tahun lima bulan.

Seketika bung tomi melirikan pandangannya pada pak rusman yang sedang ngalamun di sudut ruangan. Wajahnya menunduk ke bawah dengan kedua tangan menggenggam lutut. Sejenak pak rusman mengangkat kepala dan memandang bung tomi yang kedengarannya sedang ada masalah. Memang dari tempat duduknya umpatan bung tomi terdengar dengan jelas. Seolah menandakan kalau dia butuh sesuatu.

Pak tua kau ada uang?”tanya bung toni bernada ngancam.

Pak rusman menjawabnya “Maaf bang saya sudah nggak punya apa-apa. Hartaku semuanya ludes. Keluargaku tak ada sudah membiarkanku.”

Alah omong kosong! Pasti punyalah. Lha kemarin kau korupsi banyak itu masak baru setahunan sudah habis?”

Bener bung, aku jawab apa adanya. Sejak kasusku terungkap, dan penanganannya berjalan karena bukti telah di ketahui, pemerintah menghabiskan hartaku. Sampean tahukan berapa saja biaya untuk pengacaraku. Terus terang saja bang  denda atas kasus ini pun banyak. Makanya sekarang aku hanya hidup sebatangkara tak punya keluarga.”

Yo wis tidak usah mengeluh lagi

Tiba-tiba kepala tahanan sedang jalan-jalan menyambangi para tahanan. Tugas ini sudah menjdi rutinitasnya selama periode kepengurusan yang ia pimpin. Dengan memakai baju tugas lengkap dia berkeliling. Sekedar menyapa tahanan yang di kenalnya. Namanya pak anton, sudah tiga belas tahun lamanya dia menjalani tugas menjaga keamanan masyarakat.

Meskipun dia sebagai polisi sekaligus kepala rutan setempat, ternyata hobi ngrokok juga. Maklum tugasnya terkadang sampai larut malam. Seorang polisi biasanya tidak kuat kalau tidak merokok. Pantas saja ketika dia menyambangi para tahanan dia membawa sebatang rokok yang sedang di hisap.

Mau rokok bung? “ tanya pak anton menawarkan rokok.

Mendengar tawaran itu, bung toni langsung mengiakan. Sudah lama tidak ada rokok di mulutnya.

Ia pak, saya butuh banget rokok?” bung toni tergiur dengan pembungkusnya.

Dari kejauhan rokok itu terlihat label Djarum Super. Hatinya terasa senang jika di saat malam hari ada sebatang rokok di mulutnya. Sambil membayangkan keindahan dunia. Membayangkan dirinya yang seolah-olah menjadi orang kaya.Sehingga dia tidak pernah merasakan kegundahan.

Bagi bung toni Rokok  ibarat sudah menjadi kehidupannya. Setiap kali melakukan aktivitas pasti membawa rokok. Ibarat orang hidup tak ada pendamping jika rokok tak ada di tangannya.

Jalani dulu tugasmu di dalam ruangan, nanti tak kasih satu bungkus kalau sudah” tawaran bernada ejekan.

Itulah mimik muka yang di lemparkan pak anton padanya. Dengan seyuman pak anton tawarkan rokok itu. Namun lagi-lagi senyuman bohong. Itu  adalah senyuman murahan yang di gunakan orang-orang berpangkat atau beruang untuk mengejek kaum tak beruang.

Tawaran pahit itu sangat menghina bung toni. Baru kali ini dia di ejek seseorang. Sejak kecil dia langsung ngajak berantem jika ada orang yang mengejeknya. Dia juga bekas geng ternama di kota itu. Karena pak anton menghinanya, maka dia balas tawaran pahit itu.

Apa maksud looo pak, mau ngajak berantem?. Mentang-mentang jabatanmu tinggi  seenaknya saja omonganmu” balas bung bang tomi. Ia kesal atas sikap pak anton yang seperti itu.

He bung zaman gini ngajak berantem ?” jawab pak anton sambil menunjuk pangkat di dadanya. “ “lihat siapa dirimu dan siapa aku?” imbuhnya.

‘Memang siapa kau? Kau bangga dengan bintang di dadamu?’ Tegas bung toni membela diri.

Tangannya mengajukan jarin telunjuk ke arah pangkat pak anton yang berada di depannya.

Sabar lah bung, belanda masih jauh!. Aku Cuma nawari rokok. kalau mau ya ni tak kasih.” Pak anton melerai hati bung toni. Namun lagi-lagi nada ejekan sangat jelas di raut muka pak anton.

He bung bukannya apa-apa. Aku kasihan lho kamu dan temenmu di situ!. Mending kau masih di biayai disini. di kasih makan minum tempat tingga, semuanya gratis. Bersukurlah! Tandas pak anton.

Terus apa urusanmu?” bung anton berbalik tanya.

Aku hanya menawari,dari pada nggak ada rokok ni mendingan rokokku. Masih lumayan, cukuplah untuk menghilangkan kejenuhan sejenak

Sekarang nggak ada yang gratis bung, kalau mau ambil ini” . imbuh pak anton.

Puntung rokok itu di lempar ke arah bung tomi. Sedangkan pak anton pergi seketika meninggalkan tempat tersebut.

Dengan terpaksa bung toni memungutnya. Dalam hatinya sebenarnya hal itu sangat memalukan. Namun bagaimana lagi, keterpaksaan memang tak bisa di tawar.

Sial, keadaan memang tak bersahabat. Mau apa lagi, dari pada tidak ngrokok.”ungkap bung toni di dalam hati.


The end
By: fauzin el-banjari.